OMC Dry Ice Kemenhut Berhasil Tingkatkan Jarak Pandang di Sumsel

Ilustrasi OMC Dry Ice Kemenhut Berhasil Tingkatkan Jarak Pandang di Sumsel Ilustrasi. Photo courtesy of Peter Buschmann, United States Forest Service, USDA / Wikimedia Commons (Public domain)

PALEMBANG, LENSA-INDO.COM – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengerahkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berbahan semai dry ice untuk mengatasi kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan pada 16–25 Oktober 2026. Hasilnya, jarak pandang di wilayah tersebut meningkat signifikan hanya dalam satu hari operasi.

Jarak Pandang Melonjak Hampir Sepuluh Kali Lipat

Berdasarkan data awal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), operasi hari pertama yang dilakukan melalui satu sortie penerbangan membawa sekitar 800 kilogram dry ice di sekitar wilayah Palembang berhasil mengubah kondisi udara secara nyata. Jarak pandang yang semula hanya 300 meter pada pukul 09.00 WIB meningkat menjadi 2.800 meter pada sore hari, seiring penurunan konsentrasi partikel (PM) di udara.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Thomas Nifinluri menjelaskan bahwa penyemaian dry ice bekerja dengan memengaruhi suhu atmosfer dan mengganggu kestabilan lapisan inversi, sehingga pergerakan udara membaik dan konsentrasi asap di dekat permukaan berpotensi berkurang. Jika lapisan inversi mulai menipis dan potensi tumbuhnya awan hujan terdeteksi, metode ini dapat dikombinasikan dengan penyemaian garam (NaCl) untuk mendorong pembentukan hujan.

Pada hari berikutnya, penerbangan direncanakan dua sortie atau disesuaikan dengan kondisi cuaca dan atmosfer saat itu. Seluruh kegiatan OMC ini menggunakan anggaran APBN Kemenhut dan terus dipantau perkembangannya.

Penanganan Terpadu Libatkan Banyak Lembaga

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut Dwi Januanto Nugroho menegaskan bahwa penanganan karhutla dilaksanakan secara terpadu bersama TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta relawan. Menurut Dwi, seperti dikutip Antara, upaya pemadaman di lokasi kebakaran perlu diimbangi langkah-langkah untuk meredam dampak asap bagi masyarakat.

OMC dengan pendekatan penipisan asap disebut sebagai salah satu langkah pendukung yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas udara di wilayah terdampak karhutla.

Konteks

Sumatera Selatan secara konsisten masuk dalam daftar provinsi dengan titik api dan sebaran asap karhutla tertinggi di Indonesia setiap musim kemarau. OMC sebelumnya lebih dikenal sebagai teknik hujan buatan melalui penyemaian garam; penggunaan dry ice secara khusus untuk memecah lapisan inversi dan mengurai asap merupakan pendekatan yang lebih spesifik karena kondisi atmosfer kering sering kali tidak mendukung pertumbuhan awan hujan secara langsung. Operasi ini disinergikan antara Kemenhut, BMKG, dan TNI, menunjukkan pendekatan lintas sektor yang semakin terstruktur dalam penanganan dampak karhutla di Indonesia.

Foto: Ilustrasi. Photo courtesy of Peter Buschmann, United States Forest Service, USDA / Wikimedia Commons (Public domain)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *