1.000 Kendaraan Siap Konvoi ke Bangkok, PM Thailand Tak Gentar

Ilustrasi 1.000 Kendaraan Siap Konvoi ke Bangkok, PM Thailand Tak Gentar Ilustrasi. Maksim Sokolov (Maxergon) / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

BANGKOK, LENSA-INDO.COM – Ribuan warga dari wilayah selatan Thailand berencana menggelar aksi demonstrasi besar-besaran dengan menggerakkan konvoi sekitar 1.000 kendaraan menuju Gedung Pemerintah di Bangkok pada Kamis mendatang. Aksi ini dipicu oleh tekanan ekonomi yang semakin berat akibat kenaikan harga bahan bakar dan rendahnya upah pekerja.

Konvoi Berangkat dari Nakhon Si Thammarat

Rencana protes tersebut diumumkan oleh Kepala Tambon Krabi Noi, Mano Khrueakaeo, seperti dilaporkan Bangkok Post dan dikutip CNBC Indonesia, Senin (2/11/2026). Konvoi dijadwalkan bertolak dari persimpangan Khuan Nong Hong di Distrik Cha Uat, Kabupaten Nakhon Si Thammarat, dengan sejumlah pemberhentian kampanye di sepanjang rute sebelum tiba di ibu kota.

Mano menyatakan aksi ini merupakan cara utama agar keluhan masyarakat soal penderitaan ekonomi benar-benar sampai ke telinga pemerintah pusat. Hingga Minggu lalu, dana yang terkumpul untuk membiayai konvoi tersebut telah mencapai 570.000 baht atau setara sekitar Rp 306 juta. Aktivis politik Sondhi Limthongkul bahkan menyatakan akan menyumbang 100.000 baht (sekitar Rp 53,7 juta) khusus untuk kebutuhan bahan bakar.

PM Thailand: Pemerintah Siap Mendengar

Menanggapi rencana konvoi tersebut, Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyatakan tidak merasa khawatir. Pernyataan itu disampaikannya saat berada di Provinsi Nong Khai pada hari Senin. Ia menegaskan pemerintah tidak akan gentar menghadapi demonstrasi yang dinilai bermuatan politik, karena merasa pihaknya terus bekerja demi kepentingan publik.

“Pemerintah terbuka untuk mendengarkan suara para demonstran,” kata Anutin, seperti dikutip CNBC Indonesia.

Namun Anutin memberi catatan penting: kebebasan berdemonstrasi tidak boleh melanggar hak konstitusional pihak lain. Ia juga mengingatkan aparat kepolisian dan pejabat administratif di lapangan agar mampu menjalin komunikasi yang baik dengan para pengunjuk rasa.

Konteks

Mano Khrueakaeo bukan pendatang baru dalam dunia protes. Sebelumnya ia pernah memimpin aksi menolak proyek mega land bridge di Kra Isthmus, kawasan selatan Thailand. Demonstrasi kali ini mencerminkan keresahan yang lebih luas di kalangan masyarakat pedesaan Thailand selatan yang merasa terpinggirkan secara ekonomi. Kenaikan harga bahan bakar menjadi pemantik utama, sementara upah buruh yang stagnan memperparah kondisi. Skala konvoi 1.000 kendaraan menunjukkan betapa seriusnya tekanan sosial yang sedang dihadapi pemerintahan Anutin menjelang aksi tersebut digelar.

Foto: Ilustrasi. Maksim Sokolov (Maxergon) / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *